Mengulik Sejarah dan Makna Dibalik Bangunan Rumah Gadang Istana Pagaruyung Melalui Kegiatan Modul Nusantara PMM2


Melalui sebuah kegiatan kebhinekaan  dalam program Modul Nusantara yang wajib diikuti oleh seluruh Mahasiswa PMM2 (Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 2), Penulis melakukan kunjungan ke Istana Basa Pagaruyung, sebuah tempat yang memiliki banyak cerita historis dan nilai-nilai kebudayaan dalam rangka mengenal nilai-nilai sejarah dan makna dari bangunan tersebut. Istano Rajo Basa Pagaruyung yang terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat ini adalah sebuah museum berupa replika dari istana Kerajaan Pagaruyung yang juga menjadi objek wisata yang banyak diminati, terkhusus wisatawan asing dari luar pulau. Sekilas mengenai Istana Basa Pagaruyung, bangunan asli istana tersebut dibangun di Bukit Batu Patah pada abad ke-13 tepatnya pada tahun 1347, tetapi terbakar pada masa perang Padri pada tahun 1804. Pada tahun 1976,  Istana ini dipindahkan ke tempat yang sekarang, yaitu Batusangkar. Fungsi istana ini pun sudah dialihkan menjadi sebuah tempat wisata seperti pada saat ini. Istana yang dipindahkan pada tahun 1976 ini pun juga sempat terbakar pada tahun 2007 tepatnya bada Maghrib karena tersambar petir. Kebakaran berlangsung selama 3 jam dan menghanguskan seluruh bangunan dan hanya 15% peninggalannya yang bisa diselamatkan. Meskipun demikian, bangunan yang sekarang ini 90 persennya sudah mendekati bangunan yang aslinya. 


Bangunan di Istana Basa Pagaruyung memiliki 3 lantai. Lantai 1 terdiri dari 9 ruangan utama yang terdiri dari satu kamar hitam tempat tidur raja, satu kamar dengan tirai kuning ditempatkan untuk Bundo Kanduang atau Bunda Suri, dan juga 7 kamar untuk putri yang sudah menikah. Ada pula singgasana, tetapi singgasana tersebut hanya diperuntukan Bundo Kanduang dan tidak ada singgasana untuk raja, karena berdasarkan hukum adat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Oleh karena itu, ibu memiliki peranan yang penting dalam setiap pengambilan keputusan di dalam rumah. 


Menuju lantai 2, terdapat kamar-kamar untuk anak gadis yang disebut dengan ‘anjuang paranginan’. Lalu bagaimana dengan anak laki-laki? Laki-laki biasanya hidup atau tinggal di surau. Di Minangkabau itu sendiri, laki-laki yang sudah akil baligh atau biasanya mulai dari usia 7 tahun sudah tidur di surau. Maka dari itu, 1 suku wajib mempunyai 1 surau  yang tidak hanya sebagai tempat sholat, tetapi juga tempat tinggal untuk anak laki-laki. Kemudian menuju ruangan di lantai 3, ada ruangan kecil yang disebut ruang 'mahligai', yaitu ruangan yang dipergunakan untuk tempat penyimpanan harta raja.


Selain bangunan utama Istana Basa Pagaruyung, terdapat pula beberapa bangunan pendukung, seperti 'Rangkiang'. Fungsi ‘Rangkiang itu sendiri sebagai lumbung padi atau penyimpanan makanan. Di bagian belakang terdapat dapur yang dibagi menjadi 2 ruangan, yaitu ruangan tempat memasak dan tempat untuk dayang-dayang. Di dalam istana ini tidak ada ruang khusus untuk makan bersama. Ada benda di depan kamar yang ditutup kain-kain bersulam emas namanya adalah ‘Dulang Bakaki’ dimana fungsinya adalah tempat untuk meletakan makanan dan keluarga akan makan di depan kamar masing-masing secara bersamaan yang disebut juga dengan makan bajamba atau makan adat. Itulah  sebabnya di istana ini tidak terdapat ruang makan keluarga.


Rumah gadang atau Istana Pagaruyung ini memiliki konstruksi bangunan yang sangat unik. Mengapa? Orang zaman dahulu sudah memprediksi sering munculnya gempa di Sumatera Barat, sehingga mereka membuat konstruksi bangunan yang mengambang, yaitu tidak menggunakan paku dan pondasinya tidak ditanam di dalam tanah dan tiangnya hanya diletakan di atas batu namanya batu ‘sondi’. Jenis ukiran bangunan ini pun banyak sekali dan terdapat banyak makna yang terkandung di dalamnya. Jumlah tiang yang ada di dalam bangunan ini berjumlah 72 tiang. Dari 72 tiang ini, hanya terdapat satu tiang yang lurus karena memiliki makna sejarah, yang mana pada saat pembangunan ini dilakukan, 72 nagari di Minangkabau menyumbangkan 1 buah tiang untuk pembangunan Istana ini. Yang paling inti dari rumah gadang atau Istana Basa Pagaruyung ini adalah gonjong atau atap runcing. Atap runcing berjumlah 11 karena melambangkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam, sesuai filosofi Minangkabau ‘Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah’. Total biaya membangun kembali Istana Pagaruyung ini berjumlah 30 M.


Kemudian sebelum islam masuk ke Minangkabau, kerajaan Pagaruyung sudah ada di abad ke-13 tepatnya 1347. Dahulu, banyak pengaruh Hindu Budha dan kalau dilihat dari konstruksi bangunannya, kamar raja dan kamar bundo kanduang memiliki konstruksi yang sama yaitumemiliki 3 tempat untuk istirahat raja dan untuk bermeditasi yang terdiri dari 7 tirai. Konstruksi tersebutlah yang menjadi ciri adanya pengaruh Hindu Budha pada bangunan Kerajaan Pagaruyung ini. Dilihat dari konstruksi bangunan, tonggak di istana ini miring semua. Disebut 'Batagak Togak Tuo', yaitu sebagai tonggak yang lurus karena menjadi tonggak peletakan batu pertama dalam pembuatan bangunan. Kemudian mengenai privasi kehidupan keluarga kerajaan, kehidupan kerajaan memiliki nilai luhur yang sangat tinggi. Meskipun setiap kamar hanya ditutupi tirai, tetapi sikap dan privasi sangat terjaga pada zaman dahulu, berbeda dengan zaman sekarang yang dirasa sudah jarang orang yang mendapatkan atau memiliki privasi yang sangat dijaga atau terjaga dengan ketat. Kemudian membahas sekilas mengenai sejarah, mengapa ada hubungan antara kerajaan Pagaruyung dan kerajaan di Malaysia? Kekuasaan kerajaan Pagaruyung ini sampai ke daerah Sumatera Selatan bahkan ke semananjung Malaysia. Di Malaysia sendiri dahulu ada daerah yang disebut ‘Sri Menanti Malaysia’ yang merupakan tempat pelarian orang Minangkabau ketika terjadi perang,  lalu mereka meminta izin kepada raja Pagaruyung agar membuat kerajaan di sana dan raja pertama adalah keturunan Pagaruyung. 


Sekilas cerita yang penulis tulis tentang Istana Basa Pagaruyung yang menjadi tempat kunjungan Modul Nusantara. Tidak hanya itu, penulis juga mengenal, melihat, bahkan merasakan unsur kebudayaan Minangkabau. Seperti ketika penulis mencoba memakai pakaian adat Minangkabau dan juga suntiang bersama mahasiswa PMM2 lainnya. Dalam kegiatan mengunjungi Istana Basa Pagaruyung ini, tidak hanya pengetahuan sejarah dan kebudayaan yang didapatkan, tetapi penulis juga mendapatkan pengalaman baru yang tidak akan pernah terlupakan.

Komentar